Sabtu, 15 Oktober 2016

Cara Budidaya Jamur Tiram

HABITAT HIDUP UNTUK BUDIDAYA JAMUR TIRAM

['
A.      SYARAT TUMBUH BUDIDAYA JAMUR TIRAM

cara budidaya jamur tiram
jamur tiram di alam
budidaya jamur tiram, cara budidaya jamur tiram, bibit jamur tiram
Sebelum memulai budidaya jamur tiram, pelajari dlu karakteristik yang harus dipenuhi terhadap '
habitat atau kondisi lingkungan seperti apa jamur dapat hidup, tumbuh dan berkembang. Karena setiap tumbuhan membutuhkan persyaratan-persyaratan yang berbeda satu dengan yang lainnya, demikian juga terhadap budidaya jamur tiram. Hal ini dimaksudkan supaya budidaya jamur tiram dapat tumbuh secara optimal tanpa mengalami kegagalan.


Budidaya jamur tiram memerlukan kondisi leingkungan yang sesuai, baik temperatur (suhu), kelembapan, keasaman, cahaya, nutrisi, serta kandungan air. Semakin mendekatu kondisi lingkungan yang alami, semakin baik juga pertumbuhan budidaya jamur tiram.

1.       Lokasi Budidaya Jamur Tiram



cara budidaya jamur tiram
baglog jamur tiram

Apabla dapat diupayakan, sebaiknya budidaya jamur tiram dipilih lokasi atau daerah yang memiliki ketinggian antara 400-800m dari permukaan laut (dpl). Namun tidak terutup kemungkinan , jamur tiram dapat tumbuh pada lokasi dataran rendah yang memiliki lingkungan yang beriklim  dingin (sejuk), dan njauh dari polusi. Akan sangat menunjang budidaya jamur tiram bila berada pada lokasi yang memiliki tingkat kelembaban cukup dan dekat pepohonan besar.


budidaya jamur tiram, cara budidaya jamur tiram

2.       Temperatur Budidaya Jamur Tiram



Kisaran temperatur (suhu) untuk pertumbuhan budidaya jamur tiram adalah 15-30C. Sementara itu temperatur optimun yang diperlukan adalah berkisar antara 22-28C. Diupayakan temperatur lingkungan disekitar tumbuh jamur atau bedengan selalu dalam keadaan stabil. Supaya ppertumbuhan dan perkembangan dalam budidaya jamur tiram tidak terganggu. Selama budidaya jamur tiram dari penanaman bibit sampai mas panen, suhu ruangan harus dipantau terus menerus. Hal ini bertujuan supaya kisaran suhu yang dibutuhkan terpenuhi dalam membudidayakan jamur tiram.
Untuk memngetahui secara pasti keakuratan suhu, dapat menggunkan termometer dan disarankan jangan menggunakan perasaan, nanti akan berakibat fatal, atau pertumbuhan terganggu. Namun  demikian bagi perkebunan budidaya jamur tiram yang sudah berpengalaman cukup lama, tanpa bantuan termometer dapat diketahui apakah suhu sudah sesuai atau belum dengan menggunakan perasaan.

3.       Kelembapan Budidaya Jamur Tiram



cara budidaya jamur tiram
budidaya jamur tiram
Kelembapan udara berpengaruh pada pertumbuhan budidaya jamur tiram, cepat atau lambat, sehat atau tidak sehat pertumbuhannya. Kelembapan memegang peranan penting, sehingga harus diperhatikan. Pada pembentukan tumbuh buah dalam budidaya jamur tiram membutuhkan kelembapan relatif 80%. budidaya jamur tiram

Saat induksi primordia dibutuhka kelembapan udara sebesar 95%. Meksi demikian, jamur tiram cukup toleran terhadap kelembapan hingga 70%. Perbedaan ini meski sama-sama hidup, tumbu dan berkembang, namun pengaruhnya terhadap percepatan tumbuh dan kualitas yang dihasilkan dalam membudidayakan jamur tiram.

Kelembapan yang kurang memenuhi syarat dapat diperbaiki dengan mengunakan cara lain. Cara tersebut yaitu apabila tempat budidaya jamur tiram pada daerah yang panas, usahakan dekat dengan pepohonan besar, dan media (dalam hal ini baglog/polibag) harus sering disiram air, pada prinsipnya dibantu dengan metode buatan. Biasanya yang sering dialami pembudidaya jamur tiram baru, pada budidaya tahap awal, sulit untuk mengetahui kelembaban yang pasti, apakah sudah sesuai atau belum. Untuk mengatasi hal itu, satu-satunya cara yang baik dan benar ialah dengan menggunakan alat untuk mengukur kelembapan, yakni higrometer. Higrometer dipasang didalam rumah budidaya jamur tiram.

4.       Keasaman (PH)  Dalam Membudidayakan Jamur Tiram


Ph Meter

Media yang terlalu asam atau terlalu basa dapat menyebabkan pertumbuhan meselium dan tumbuh buah jamur tiram terhambat. Pertumbuhan meselium dan tumbuh buah dalam budidaya jamur tiram yang ideal pada Ph optimun antara 4-6. Jika Ph diatas 6,0 pertumbuhan dalam budidaya jamur tiram jadi kurang bagus. Untuk mengukur secara tepat dan benar keasaman dan kebasaan, dapat menggunakan Ph meter, namun perlu diketahui bahwa alat tersebut harganya relatif mahal. budidaya jamur tiram



5.       Kandungan Air Budidaya Jamur Tiram


Kandungan air dalam dalam media pertumbuhan budidaya jamur tiram sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan  miselium maupun perkembangan tubuh buah jamur tiram. Budidaya jamur tiram memerlukan subrat tubuh dengan kandungan air lebih kurang 75%.

6.       Nutrisi Budidaya Jamur Tiram



Sperti halnya tumbuhan yang lain, jamur tiram juga memerlukan sumber nutrisi dalam bentuk unsur hara seperti  H,F,S,C dan beberpa unsur penting lainnya, dalam media tanam, sebenarnya unsur tersebut sudah tersedia  walaupun tidak banyak yang di butuhkan. Jamurtiram tidak dapat menggunakan energi matahari seperti tumbuhan yang berklorofil untuk proses biologi, tetapi menghasilkan sejumlah enzim extraseluler yang dapat mendegradasi senyawa komplek yang dapat larut dan kemudian diserap oleh jamur untuk nutrisi. Unsur terpenting dari media lignoselu-lose yang digunakan untuk budidaya jamur tiram ialah selulosa, hemi selulosa dan dan lignin. budidaya jamur tiram

7.       Cahaya yang dibutuh Dalam Budidaya Jamur Tiram


cahaya matahari

Budidaya jamur tiram sangat sensitif terhadap cahaya matahari terutama cahaya matahari yang langsung. Budidaya jamur tiram sangat tidak cocok di daerah yang sangat panas, baik panas langsung maupun tidak langsung, oleh karena itu, biasanya rumah untuk budidaya jamur tiram dibuat sedemikian rupa tertutup, sekalipun ada lubang fentilasi, fungsinya hanya sekedar sirkulasi udara atau terkena efek sinar matahari yang tidak dapat dihindari secara tidak langsung.

8.       Media Budidaya Jamur Tiram



Budidaya jamur tiram umumnya dapat menggunakan berbagai macam media. Baik yang secar alami (batang pohn berkayu) maupun media lain, seperti sebuk kayu, jerami padi , alang-alang, sisa kertas, ampas tebu, kullit kacang dan bahan media lainnya. Karena banyakny pilihan media tumbuh dalam membudidayakan jamur tiram, sebaiknya pilihlah media yang paling efisien, mudah didapat, harganya murah harganya dan hasil produksinya dapat optimal.

                Dari pemantauan, para pembudidaya jamur tiram menggunakan media dari serbuk kayu (gergajian) dan jerami padi. Dua bahan tersebut mudah di usahakan dan harganya relatif murah, tanpa mengurangi  tingkat produktifitas maupun mutu jamur tiram itu sendiri. Bahan baku serbuk kayu maupun media jerami padi itu sendiri masih ditambah formula lain, yang umumnya terdiri atas bekatul, kapur kawus, gips, pupuk TPS, dan kapas. budidaya jamur tiram

cara budidaya jamur tiram
media budiya jamur tiram
budidaya jamur tiram, cara budidaya jamur tiram, bibit jamur tiram
                Dahaulu budidaya jamur tiram masih menggunakan media tanam dari batang pohon berkayu. Batang pohon tersebut di potong-potong antara 8 sampai 120cm, dilubangi dengan jarak tertentu, dan bibit ditanam pada lubang tersebut. Namun ternyata bahan media tumbuh membutuhkan lahan atau tempat tanam yang luas, sehingga cara budidaya jamur tiram tersebut ditinggalkan. Cara budidaya jamur tiram tersebut diganti dengan cara yang lebih praktis dan efisien, ternyata hasilnya tidak kalah, malahan lebih ekonomis. budidaya jamur tiram



SARANA DAN PRASARANA BUDIDAYA JAMUR TIRAM


A.      Modal Untuk Budidaya Jamur Tiram


Modal yang dimaksud disini adalah sejumlah investasi untuk membiayai aktifitas budidaya jamur tiram, baik berupa mdal maupun lahan. Tanpa modal hampir mustahil suatu usaha dapat berjalan. Karena modal merupak faktor utama. Besar kecilnya modal yang harus dikeluarkan dalam budidaya jamur tiram ini sifatnya relatif, tidak dapat dirumuskan dengan pasti. Semuanya bergantung pada berbagai hal dan pertimbangan . namun dengan mempelajari dengan seksama tentang analisa usaha budidaya jamur tiram, paling tidak dapat memberikan gambaran seberapa besar kebutuhan modal untuk memulai usaha budidaya jamur tiram.

Sebagai langkah awal, disarankan dengan mencoba dalam skala kecil, misalnya dengan memanfaatkan pekarangan dengan ukuran 3x7 meter, atau 5x8 meter sudah dapat digunakan untuk usaha budidaya jamur tiram. Mengenai peralatan, dapat menggunakan peralatan yang sangat sederhana, misalnya drum untuk sterilisasi, drum bekas itu dapat dibeli dengan harga murah,  cangul, ember dan sekop dapat diusahakn sendiri. Pada prisnsipnya dengan modal kecilpun dapat memulai usaha budidaya jamur tiram  asal memliki kemauan dan niat yang kuat.
Mengenai tenaga kerja,  dapat dikerjakan sendiri oleh anggota keluarga. Sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya untuk membayar upah. budidaya jamur tiram


B.      Peralatan Budidaya Jamur Tiram

budidaya jamur tiram, cara budidaya jamur tiram, bibit jamur tiram
Perlu diuraikan disini, peralatan yang digunakan dalam budidaya jamur tiram, dibagi menjadi dua bagian yaitu peralatan untuk laboratorium pembibitan dan peralatan produksi  budidaya jamur tiram.

1.       Peralatan Untuk laboratorium pembibitan
peralatan labor bibit jamur tiram

Peralatan untuk laboratorium pembibitan perlu diusahakan apabila petani mengerjakan proses pembibitan jamur tiram sendiri. Akan tetapi bila bibit jamur tiram yang diperoleh dengan membeli dipengusaha penyedia bibit jamur tiram, maka peralatan dirasa tidak perlu diusahakan. Peralatan laboratorium pendidikan yang diperlukan terdiri atas.
a.       Autokalf atau drum, dapat diganti dandang ukuran besar
b.      Inkubator
c.       Kotak isolasi
d.      Kompor gas, dapat diganti denga kompor biasa
e.      Ph meter, higrometer, dan termometer
f.        Tabung reaksi dan cawan petri
g.       Meja.

2.       Peralatan Produksi Budidaya jamur Tiram
Peralatan produksi yang diperlukan :
a.       Lampu spirtus
b.      Pisau skapel dan pinset
c.       Plastik polypropylene
d.      Botol-botol pipih
e.      Cincin pralon/bambu dan karet gelang
f.        Alumunium foil/plastik lembaran tahan panas
g.       Cangkul, sekop dan ember plastik


C.      Rumah Jamur Budidaya jamur  tiram (kumbung)


kumbung jamur tiram

Tempat untuk budidaya jamur tiram, sebenarnya dapat dilakukan didalam ruangan rumah, namun dayatampungnya kemungkinan terbatas, oleh karena itu, perlu dibangun rumah jamur yang lokasinya dilpilih dekat dengan halaman rumah (jika memungkinkan).

Jika tidak, dapat membangun rumah budidaya jamur tiram dilokasi tertentu yang memenuhi syarat kelembaban dan suhu leingkungan. Rumah budidaya jamur tiram sebaiknya dibuat dari bahan-bahan yang sederhana untuk menghemat biaya. Pergunakan bahan dari bambu dan anyaman dari bambu (gedeg) untuk dinding. Ukuran kumbung budidaya jamur tiram tergantung masing-masing petani yang disesuaikan dengan kemampuan dan luas lokasi. Didalam kumbung budidaya jamur tiram dibuatkan rak-rak dan disekat-sekat untuk meletakkan media tanam. Tinggi rak dibuat sedemikian rupa yang dapat memuat kapasitas baglog yang disediakan. Tinggi rak dapat dibuat 4 sampai 6 tingkat, sehingga akan menghemat tempat. Buatlah gang tiap-tiap baris, sehingga memudahkan pengontrolan maupun pemeliharaan, terutama penyiraman.

budidaya jamur tiram, cara budidaya jamur tiram
CARA BUDIDAYA JAMUR TIRAM



Cara budidaya jamur tiram dengan media serbuk kayu yang perlu diperhatikan adalah bahan media, formulasi media, cara membuat media, inokulasi, inkubasi,, pemeliharaan dan penumbuhan.
1.       Bahan media budidaya jamur tiram
Bahan media yang digunakan untuk budidaya jamur tiram adalah serbuk kayu, bekatul, kapur, gips dan pupuk TSP.

a.       Serbuk kayu

serbuk kayu

Budidaya jamur tiram dengan menggunakan serbuk kayu (gergajian) aling banyak dilakukan oleh para pengusaha budidaya  jamur tiram saat ini. Pemilihan media ini disebabkan karena praktis, bahan baku murah dan mudah didapat.
Meski dpat tumbuh pada media serbuk kayu sebagai bahan baku utama, tetapi tidak sembarang kayu dpat digunakan. Kayu yang paling baik dari jenis kayu sengon,  kayu karet, akyu waru, kayu jeungjing putih dan kayu jati.

Syarat kayu yang baik untuk media tanam budidaya jamur tiram adlah sebagai berikut ini :

-          Serbuk kayu yang tidak mengandung miinyak atau bahan kimia lain
-          Serbuk berasal ari kayu keras, daya tahan medai tanamnya akan lebih lama, misalnya kayu jat
-          Serbuk kayu tidak bergetah, kering, bersih dan tidak busuk
-          Serbuk kayu masih baru, akan lebih menguntungkan
-          Serbuk kayu tidak ditumbuhi jamur lain

Selain menggunakan serbuk kayu, masih ada juga bahan tambahan atau bahan penunjang lainnya, diantaranya bekatul, kapur, gips dan Pupuk TSP.

b.      Bekatul
bekatul

Bekatul sebagai campuran media tanam berfungsi sebagai nutrisi jamur tiram dan sumber karbohidrat, karbon, dan nitrogen. Karbon digunkaan sebgai sumber energi utama. Sedangkan nitrogen berfungi untuk mebangun meselium dan mebangun enzim-enzim yang disimpan dalam tubuhnya. Bekatul yang disarankan adalah yang masih baru dan tidak berbau apek atau tengik agar efektif dalam budidaya jamur tiram.

c.       Kapur kawur

Kapur yang dimaksud dalam proses budidaya jamur tiram ini adalah kapur yang telah mati (gamping) yang apabila diberi air tidak lagi memuai atau panas. Kapur ini digunakan untuk menjaga keasaman media dan berfungsi sebagai sumber mineral.

d.      Gips

Gips digunakan untuk memperkokoh media tanam dalam polibag budidaya jamur tiram, sehingga tidak mudah hancur dan rusak. Selain itu juga berfungsi sebagai sumber mineral.

e.      Pupuk TSP
pupuk TSP
Pupuk TSP digunakan untuk mempercepat pertumbuhan miselium dan tubuh buah jamur tiram.


2.       Formulasi Media Budidaya Jamur Tiram


Banyak alternatif yang dapat dipilih dalam membuat formulasi media tanam dalam budidaya jamur tiram. Keberagaman formulasi ini berdasarkan pengalaman masing-masing petani budidaya jamur tiram dalam mempraktikkan pembuatan media tanam jamur tiram. Masing-masing meliki resep media yang berbeda-beda. Hal ini justru akan menguntungkan para pemula untuk memilih yang paling menguntungkan hasil produksinya dengan perbandingan biaya dan kemudahan untuk memperoleh bahan-bahan tersebut. budidaya jamur tiram

3.       Prasarana Penunjang Dalam Budidaya Jamur Tiram

Prasarana yang diperluka dalam budidaya jamur tiram  ialah kantong plastik, pralon, kapas, dan alumunium foil atau karet.

a.       Kantong plastik
cara budidaya jamur tiram
plastik baglog jamur

Kantong plastik diperlukan untuk menempatkan media tanam budidaya jamur tiram yang berisi serbuk kayu dan formulasi lainnya. Dengan menggunakan kantong plastik, pengaturan kelembapan dan jumlah oksigen mudah dikontrol. Kantong plastik yang digunakan dalam proses budidaya jamur tiram ini adalah jenis PP dengan ketebalan minimal 0,4mm ukuran 17x30cm untuk media berbobot 1kg. Kantong plastik yang telah berisi media bentuknya sama dengan bibit semai dari tanaman-tanaman lain. Perbedaanya untuk kantong media ini ujungnya diberi leher atau cincin dari pralon atu potongan bambu, kemudian disumbat dengan kapas. Kantong media ini juga sisebut baglog atau log atau polibag.

b.      Pralon

Pralon atau potongan bambu diperlukan sebagai cincin atau leher polibag jamur tiram, sehingga memudahkan penutupan kantong plastik. Disamping itu dengan diberi cincin pralon, keadaan polibag menjadi lebih kuat atau kencang, dan padat. Ukuran pralon antara 2-3cm dengan diameter 1,25inch.

c.       Kapas
cara budidaya jamur tiram
kapas
Kapas digunakan sebagai tutup baglog/ polibag. Penyumbatan dengan kapas ini harus dipadatkan sehingga apabila disterilisasi tidak mudah terlepas.

d.      Alumunium Foil atau karet.

Alumunium foil atau karet digunakan untuk membungkus atau melapisi tutup dari kapas tersebut. Untuk pelapis juga dapat menggunakan plastik PP dengan ketebalan 0,4mm. Sementara itu karet gelang berfungsi untuk mengikat supaya tutup polibag jamur tiram tidak terlepas

budidaya jamur tiram, cara budidaya jamur tiram
4.       Cara Membuat Media Budidaya Jamur Tiram



Adapun tahapan-tahapan budidaya jamur tiram adalah sebagai berikut :
1.       Pengayakan serbuk kayu
2.       Pencampuran formula
3.       Pembungkusan baglog (loging)
4.       Sterilisasi media
5.       Inokulasi
6.       Inkubasi
7.       Penumbuhan
8.       Pemeliharaan
9.       Panen



PANEN DAN PASCA PANEN BUDIDAYA JAMUR TIRAM



A.      Panen Jamur Tiram

cara budidaya jamur tiram
panen jamur tiram
Sebelum hasil produksi budidaya  jamur tiram  dipanen, terlebih dahulu perlu diketahui tujuan dan kebutuhan apa jamur tiram dipanen, apakah akan dijual langsung dalam bentuk segar, apakah akan dikeringkan terlebih dahulu, atau apakah akan dikemas dalam bentuk makanan (kripik jamur tiram). Namun akan lebih sebelum dipanen, tentukan pasarnya terlebih dahulu, supaya begitu dipanen tidak menjasi bingung mau diapakan atau dipasarkan kemana. budidaya jamur tiram

Jamur tiram dapat dipanaen setelah tubuh buah mencapai ukuran optimal dan cukup besar. Pemanenan pertama, biasanya dilakukan setelah 30hari sejak dilakukan pelubangan atau penyobekan kantong plastik (baglog). Pada saat miselium sudah merata keseluruh permukaan polibag, kemudian dilakukan penyobekan atau membuka tutup plastik (media budidaya jamur tiram). Sejak itulah mulai tumbuh badan buah yang diawali dengan bentuk benjolan-benjolan kecil, kemudian semakin membesar, sampai pertumbuhan maksimal. Untuk panen berikutnya setiap 10hari sampai 4bulan (masa prduktif media budidaya jamur tiram). Setelah 4bulan media budidaya jamur tiram harus diganti baru, dapat mebeli langsung bibit jamur tiram siap tanam atau mengisi (menginokulasi bibit induk sendiri) tergantung mana yang lebih disukai dalam membudidayakan jamur tiram.

Dalam satu periode penanaman budidaya jamur tiram dapat dilakukan rata-rata 10hari hingga 12 kali panen. Waktu panen untuk setiap lokasi /daerah tidak selalu sama. Hal ini disebabkan karena perbedaan lokasi akan berpengaruh terhadap kelembapan dan temperatur. Namun dari pengalaman pembudidaya jamur tiram, mereka memanen 10-12hari sekali, semakain mendekati kondisi lingkungan yang ideal yang dibutuhkan untuk budidaya jamur tiram, tentu saja masa panen jamur tiram semakin cepat dan kualitas hasil panen budidaya jamur tiram semakin baik.

Cara memanen jamur tiram harus dilakukan secara hati-hati. Petunjuk cara memanen jamur tiram yang benar seperti berikut ini:
cara budidaya jamur tiram
mencabut jamur tiram

1.       Mencabut seluruh rumpun jamur tiram yang ada, karena satu polibag itu terdiri atas beberapa cabang rumpun. Jangan melakukan pencabutan tubuh buah jamur tiram yang dianggap besar saja.
2.       Jangan sampai memotong tubuh buah jamur tiram nya saja dan batangnya ditinggalkan, tapi dilakukan pencabutan sampai ke akar-akarnya. Sehingga akar jamur tiramnya tidak ada yang ketinggalan yang menyebabkan media budidaya jamur tiram ini jadi busuk.
3.       Lakukan pencabutan jamur tiram secara hati-hati dengan tangan, gar media tidak rusak
4.       Sebaiknya waktu memanen jamur tiram dilakukan pada pagi hari, karena jamur tiram masih dalam kondisi segar.
5.       Setelah jamur tiram dipetik,
6.       Setelah jamur tiram dipetik, lakukan pencucian untuk menghilangkan kotoran yang menempel pada hasil budidaya jamur tiram.

Dari pengalaman petani budidaya jamur tiram, setiap polibag jamur tiram dalam satu periode budidaya (4bulan) dapat dipanen rata-rata 1,5 kg atau 1polibag menghasilkan 125gram jamur tiram.

B.      Pasca Panen Budidaya Jamur Tiram


Hasil panen budidaya jamur tiram dapat dijual dalam bentuk segar, kering atau melalui proses pengolahan yang dapat dikalengkan. Biasanya dilakukan oleh exportir jamur tiram yang menerima pasokan dari sentra-sentra budidaya jamur tiram dari petani, untuk dikalengkan. Perlu diketahui, daya tahan jamur tiram segar hanya satu hari. Apabila tidak segera dipasarkan dapat disimpan dilemari pendingin hingga dapat bertahan 1-2 minggu.

Untuk pengeringan hasil budidaya jamur tiram dapat dilakukan dengan bantuan sinar matahari langsung atau menggunakan alat pengeringan modern, supaya dapat tahan lebih lama. Penjemuran jamur tiram harus benar-benar kering, supaya tidak lekas busuk atau menimbulkan bau yang kurang sedap dan mudah terkena jasad renik atau ditumbuhi cendawan, yang dapat mengakibatkan kerusakan, serta penurunan kualitas jamur tiram itu sendiri.

1.       Pelakuan terhadap log budidaya jamur tiram



Setelah dilakukan pemetikan secara menyeluruh tubuh buahnya jamur tiram, log-log tersebut perlu dipelihara sebagaimana langkah awal pembudidayaan jamur tiram, yakni dilakukan penyiraman, menjaga suhu, kelembapan, dan lain-lain sehingga log-log menghasilkan berulang-ulang jamur tiram dengan jumlah maupun mutu yang baik yang tidak jauh dengan panen pertama budidaya jamur tiram


2.       Limbah Log Budidaya Jamur Tiram



cara budidaya jamur tiram
limbah log jamur
Sebagaimana sudah dibahas sebelumnya dalam budidaya jamur tiram, bahwa masa produktif log adalah 4bulan, atau lebih kurang 6bulan jika benar dirawat dengan baik sejak inokulasi bibit kedalam log, maka limbah log setelah masa produktif bisa dimanfaatkan untuk kompos. Kompos merupakan pupuk alami yang memepunyai mafaat besar untuk tanama. Limbah log hasil budidaya jamur tiram juga dapat dimanfaatkan sebagai campuran pakan ternak babi. Sehingga limbah log jamur tiram ini memiliki nilai ekonomis, walupun nilainya tidak begitu besar.

3.       Kendala-kendala Selama Proses Budidaya Jamur Tiram



Didalam budidaya jamur tiram sering muncul kendala-kendala yang dapat menghambat pertumbuhan jamur tiram. Kendala-kendala dalam proses budidaya jamur tiram dapat berasal dari bibit jamur tiram itu sendiri, penyakit dan hama.

a.       Bibit Jamur Tiram
cara budidaya jamur tiram
bibit jamur tiram

Pembelian bibit jamur tiram dari perusahaan/pengusaha pembibitan sebaiknya harus diperhatikan kualitas bibit jamur tiram dan masa kadaluarsanya. Bila memperoleh bibit jamur tiram yang kadaluarsa, tentu saja akan merugikan petani budidaya jamur tiram, karena akan mengakibatkan pertumbuhan jamur tiram  kurang bagus dan lambat, bahkan akibat paling parah tidak muncul sama sekali tunasnya/gagal dalam budidaya jamur tiram. Ubibntuk mengantisipasi hal tersebut, pembelian bibit jamur tiram harus meperhatikan mutu dan masa kadaluarsanya.

b.      Penyakit Jamur Tiram

Penyakit yang mungkin muncul atau yang di alami pembudidaya jamur tiram pada saat pertumbuhan miselium adalah munculnya jamur-jamur liar. Hal ini disebabkan oleh kurangnya sterilisasi, baik suhu yang kurang sesuai ataupun waktu sterilisasi kurang lama sehingga terjadi kontaminasi. Bila hal ini terjadi, sebaiknya segala peralatan yang digunakan harus benar-benar disterilkan termasuk lingkungan budidaya jamur tiram

c.       Hama Jamur Tiram

Hama yang sering muncul dan menyerang media tanam dan badan buah jamur tiram adlah sejenis lalat. Apabila dibiarkan, pertumbuhan jamur tiram menjadi terganggu. Untuk mencegah masuknya lalat dalam rumah tempat budidaya jamur tiram, dengan memasang kawat kasa ditempat lubang fentilasi kumbung budidaya jamur tiram, serta sering melakukan pembersihan lantai dan sekeliling kumbug budidaya jamur tiram.



PEMASARAN JAMUR TIRAM


Pasar jamur tiram masih terbentang luas, terutama untuk orientasi ekspor, sperti taiwan, hongkong, jepang, inggris, dana masih banyak lagi dikawasan Asia Tenggara sendiri. Persoalan mendasar adalah masih minimnya suplai jamur tiram dari pengusaha budidaya jamur tiram. Banyak eksportir jamur terutama jamur tiram sesungguhnya menunggu dari para pembudidaya jamur tiram, namun sekali lagi budidaya jamur tiram ini belum memasyarakat. Pengetahuan tentang cara budidaya jamur tiram masih kurang dan belum tersosialisasi penyebarannya dikawasan Indonesia. Kebutuhan dalam negeri sediri cukup tinggi, dengan banyaknya turis asing yang masuk ke Indonesia. Hal ini mendorong tingginya permintaan akan jamur tiram, karena diluar negeri  jamur tiram sudah menjadi santapan sehari-hari.
cara budidaya jamur tiram
pemasaran jamur tiram

Pemasaran jamur tiram hasil panen dapat dijual dalam bentuk segar, kering, maupun melalui proses pengolahan. Jaringan pasarnya dapat ditempuh melalui berbagai cara, diantaranya koperasi, pedagang pengepul, pasar swalayan, pasar tradisional, restoran, hotel, eksportir dan door to door.

1.       Koperasi



Untuk membantu kelancaran hasil produksi budidaya jamur tiram, sebaiknya petani/ pembudidaya jamur tiram masuk menjadi anggota koperasi (plasma). Sehingga ada kepastian hasil panen jamur tiramnya dapat ditampung, selain dimanfaatk sebagai ajang tukar pikiran antara plasma budidaya jamur tiram juga dapat digunakan sebagai pembanding mana yang harganya tinggi.

2.       Pedagang Pengepul Jamur Tiram



Pemasaran hasil budidaya jamur tiram dapat dilakukan melalui pedagang pengepul jamur tiram. Biasanya pedagang pengepul budidaya jamur tiram ini selalu memonitor sentra-sentra jamur tiram untuk membeli hasil panen jamur dari petani budidaya jamur tiram, kemudian mereka jual ke pabrik atau kehotel-hotel yang telah menjadi langganan jamurnya.

3.       Pasar Swalayan


pemasaran jamur

Apabila dapat menembus langsung ke pasar swlayan, keuntungannya adalah harga lebih tinggi, namun tidak jarang sistem pembayarannya dalam bentuk konsinyasi.


4.       Pasar Tradisional



Pemasaran hasil budidaya jamur tiram dapat dilakukan secara langsung ke pasar-pasar tradisional. Keuntungannya, mengurangi mata rantai sehingga kemungkinan harga jamurnya cukup tinggi.

5.       Restoran

Biasanya restoran-restoran besar banyak mebutuhkan jamur dalam berbagai jenis, termasuk jamur tiram. Hal ini dapat ditempuh dengan menawarkan langsung kerestoran yang jumlahnya cukup banyak di kota.

6.       Hotel-Hotel



Pemasaran hasil budidaya jamur tiram dapat dilakukan langsung dengan menawarkan ke hotel-hotel, terutama ke hotel-hotel berbintang. Sebagimana diketahui, hotel-hotel berbintang tidak jarang ditemui turis-turis asing yang menginap, sehingga menu makan yang disajikan  tidak emnutup kemungkinan menggunakan jamur tiram sebagai variasi masakan. Tentu saja dibutuhkan teknik bagaimana cara menawarkan ke hotel-hotel hasil budidaya jamur tiram.

7.       Eksportir


Ekspor Jamur Tiram

Di Indonesia cukup banyak eksportir konsumsi jamur dari berbagai jenis yang dapat dibidik untuk alternatif pemasaran. Dan biasanya permintaan jamur tiram dalam jumlah besar.


8.       Door To Door



Hasil panen budidaya jamur tiram juga dapat dijual dari rumah kerumah, komplek perumahan yang biasanya langsung berhadapan dengan konsumen akhir, harga jamur tiram bisa tinggi.

Harga jamur tiram baik dalam bentuk segar, kering ataupun sudah dalam bentuk kripik jamur tiram sifatnya fluktasi. Harga hasil budidaya jamur tiram disetiap daerah tidak selalu sama. Sehingga tidak dapat dijelaskan secara pasti harga standarnya. Semakin banyak pembudidaya jamur tiram di suatu daerah maka semaking murah harga jamurnya, sebaliknya semakin jarang pembudidaya jamur tiram di suatu daerah maka semakin tinggi harga jamur tiram di daerah tersebut.

Alternatif lain pemasaran jamur tiram dapat dilakukan dengan cara dibuat keripik jamur, yakni dikeringkan, ditambah bumbu-bumbu kemudian digoreng, dan dikemas dalam kantong plastik, supaya nilai jual jamur tiram nya tinggi . kantong plasti juga bisa di cetak gambar dan tulisan yang menarik, setelah itu bisa dijual ke toko-toko dan supermarket. Sekarangpun banyak dijumpai dipasaran atau swalayan keripik hsil budidaya jamur tiram.



Sabtu, 10 September 2016

PEMBIBITAN BELUT


A.      Wadah Pembibitan Belut



teknik pembibitan belut
wadah pembibitan belut

Saat ini, wadah yang digunakan pada pembibitan belut tidak harus menggukan wadah yang berukuran luas. Bahkan, pembenihan belut dapat diaplikasikan di lahan sempit. Wadah pembenihan yang bisa digunakan berupa bak atau kolom beukuran 5 m x3 m x 1 m. Selain itu, durum atau toren bekas juga dapat dignakan sebagai wadah pembenihan asalkan masih bagus dan mampu menahan air. Berikut adalah kriteria wadah yang dapat digunakan sebagai wadah pembibitan belut.
1)      Mampu menahan volume air.
2)      Mampu menahan lumpur.
3)      Kuat dan tidak bocor.
4)      Sesuai dengan volume produksi yang diinginkan.
5)      Mudah dalam sirkuasin air.
6)      Mudah dalam pergantian media.
7)      Mudah pemanenan

Wadah yang harus ada dalam pembibitan belut antara lain adalah kolam pemeliharaan induk, kolam pemijahan, dan kolam pendederan. Kolam pemeliharaan atau penampung induk merupakan kolam yang berfungsi untuk menampung induk belut sebelum atau sesudah dipijahkan.  Kolam ini minimal harus ada sua buah. Satu untuk induk jantan dan satu lagi untuk induk betina. Kolam ini harus menggunakan substart lumpur dengan dasarya untuk membuat induk merasa nyaman sehingga seperti habitat aslinya.

Kolam kedua yang harus ada dalam pembibitan belut adalah kolam pemijahan. Akan tetapi, wadah ni juga berfungsi sebagai tempat penetasan telur dan pemeliharaan benih belut sampai ukuran 2 cm. Kolam harus memenuhi syarat yang bisa mebuat induk merasa nyaman untuk melakukan pemijahan. Selain itu, media yang digunakan sebagai substart pemijahan juga harus kaya akan nutrisi yang akan digunakan induk dan anak-anak belut. Kapasitas induk yang ditebar di dalamnya harus sesuai dengan ukuran kolam. Untuk padat tebar induk yang ideal pada wadah seluas 1 m x 2 m adalah 2 set indukan, yaitu 2 ekor jantan dan 8 ekor betina.

                Kolam ketiga adalah kolam pendederan. Kolam ini disiapkan untuk memelihar bibit belut sampai ukuran 8-15 cm. Ukuran ini merupakan ukuran aman bagi benih belut untuk dibesarkan, terutama pada air bening. Biasanya kolam pendederan terdiri dari dua jenis. Pertama adalah kolam pendederan untuk medederkan benih berukuran 2-5 cm dengan padat tebar 500 ekor/meter persegi. Kadua adalah kolam untuk medederka benih 5-8 cm dengan padat tebar 200 ekor/meter persegi dan bertujun menghasilkan benih berukuran rata-rata 15 cm.


B.     Media Pembibitan Belut



Dalam membibitkan belut, diperlukan media sebagai substart induk ketika melakukan pemijahan. Hal tersebut juga bertujuan untuk meningkatkan keberhasilan pemijahan. Selain itu, pengadaan media juga bertujuan untuk menyeuaikan induk dengan habitat aslinya.
1.       Menyiapkan media pemenihan
Sebelut pembibitan belut dilakukan, perlu dipersiapkan media yang cocok untuk belut agar mau mejah dan menghasilkan telur dalam yang optimal. Berikut adalah langkah-langkah yang dilakukan dalam menyiapkan media pembibitan belut.

a)      Siapkan wadah dengan ketinggian 60-80 cm.
b)      Isi dasar dengan jerami setinggi 10 cm
c)       Masukka pupuk kandang (kotoran sapi atau kotoran kerbau) setinggi 5 cm.
d)      Masukkan lumpur sawah setinggi 5 cm.
e)      Masukkan jerami dengan setinggi 10 cm.
f)       Masukkan pupuk kandang dengan ketinggian 10 cm.
g)       Masukkan lumpur sawah setinggi 5 cm.
h)      Tambahkan air hingga ketinggian 5 cm di atas media.
i)        Tambahkan larutan biokomposer kedalam media dengan perbandingan dengan air 1 : 8 per meter cubik.
j)        Biarkan media yang sudah disiapkan selama satu bulan.
k)      Lakukan sirkulasi/ganti air setiap hari sehigga media mengendap dan air di atas media menjadi bening.


2.       Mengecek kesiapan media pembibitan belut

Setelah kurang lebih 3-4 minggu persiapan media, harus dilakukan pengecekan pada media tersebut sebelum memasukkan indukan  belut kedalam wadah. Berikut adalah cara mengecek kesiapan media pembenihan belut.


a)      Tusukkan kayu/bambu kedalam media.
b)      Jika masih ada gelembung yang keruh dan berbau, media belum siap digunakan.
c)       Jika gelembung bening dan tidak berbau,media siap digunakan.
d)      Cara menguji kesiapan media bisa juga dilakukan dengan cara lain, yaitu menggunakan jentik nyamuk. Kalau jenti-jentik nyamuk ternyata mati, berarti proses pelapukan masih berlangsung. Sebaliknya, kalau jentik-jentik nyamuk masih hidup, berarti media sudah aman untuk dimasuki belut.


C.      Induk belut siap pijah


teknik pembibitan belut
indukan belut

Untuk kebutuhan induk yang akan dipijahkan, diperlukan induk jantan dan betina yang masing-masing berbeda ukuran. Perbedaan ukuran dapat dibedakan berdasarkan umur. Berikut adalah perbedaan belut jantan dan betina.
1.        Belut yang panjangnya antara 20-29 cm, umur 4-9 bulan. Belut ini merupakan induk betina yang sudah siap kawin. Bentuk kepala runcing. Warna kulit hijau muda pada punggung dan putih kekuningan pada perut.
2.       Belut yang panjangnya 40—50 cm, berfugsi sebagai induk jantan. Bentuk kepala tumpul. Warna kulit abu-abu, gelap.

Banyaknya belut yang dimasukkan ke dalam wadah pemijahan adalah 1 ekor jantan dan 4 ekor betina untuk kolam seluas 1 meter persegi. Jika kolam memiliki luas 10 meter persegi, diperlukan 10 ekor belut jantan dan 40 ekor belut betina.

Waktu penebaran induk yang tepat sebaiknya dilakukan pada sore hari atau mejelang magrib. Hal tersebut dilakukan mengingat belut merupakan ikan nokturnal yang aktif pada malam hari. Jika penebaran dilakukan pada pagi atau siang hari, dikhawatirkan induk akan menjadi stres, behkan tidak mau mamijah.

Penabaran indu harus dilakukan secara hati-hati. Caranya adalah dengan memasukkan induk kedalam wadah kecil (misalnya ember) lalu memaksukkannya kedalam wadah pemijahan. Saat penebaran, induk dibiarkan keluar sendiri dari ember dan masuk kedalam wadah pemijahan.

Setelah induk dimasukkan kedalam wadah pemijahan, dilakukan pemberian pakan tambahan.contah dari pakan tersebut adalah ikan cere dan cacing. Pakan tambahan yang diberikan jangan terlalu banyak. Hal ini mengingat pakan yang utama sudah berasal dari media yang memang jadi sumber nutrisi bagi belut.


D.      Pemijahan belut

telur belut



Setelah induk dimasukkan dalam kolam pemijahan, wadah pamijahan sebaiknya ditutup. Penutupnya dapat berupa tanaman air seperti eceng gondok atau dengan anyaman bambu untuk menciptakan suasana lembab dan gelap, sebagaimana habitat alami belut di alam. Selain itu, untuk meningkatkan presentase pemijahan, harus tercipta kondisi yang tenang dan nyaman bagi belut. Oleh karena itu, letak wadah pemijahan sebaiknya jauh dari kebisingan dan lalulalang orang. Dengan demikian, induk tidak merasa terganggu ketika melakukan proses pemijahan.




1.       Syarat pemijahan bibit belut
Jika melihat pada tingkah lakunya, belut merupakan hewan teritorial. Teritorial disini maksudnyaadalah hewan yang memiliki wilayah kekuasaan sendiri. Biasanya hal ini akan terjadi pada masa-masa tertentu, misalnya saat pemijahan. Dengan demikian, harus diciptakan kondisi yang nyaman sehingga belut akan memijah.

                Untuk mendapatkan kondisi nyaman dan induk sukses memijah, perlu beberapa syarat. Berikut adalah syarat-syarat agar induk merasa nyaman sehingga sukses melakukan pemijahan.
a.       Induk telah matang gonat.
b.      Penebaran induk dalam wadah jangan terlalu padat.
c.       Media kaya nutrisi.
d.      Media dasar gemur, liat, dan tidak mudah runtuh.
e.      Air bening dan setinggi 5 cm dari media dasar.
f.        Jangan ada gangguan selama proses pemijahan, termasuk pemberian pakan.


2.       Prose pemijahan bibit belut



Untuk pemijahan, belut memiliki cara tersendiri dalam melakukannya. Jika kebanyakan ikan meletakkan telur pada media atau substart seperti ranting, ijuk, atau daun; belut memiliki cara yang berbeda. Belut meltakkan telur-telurnya di dalam gelembung-gelembung udara yang diciptakan dari pejantan. Selain itu, induk jatan akan membuat sarang terlebih dahulu sebelum pemijahan dilakukan. Sarang yang dibentuk berbentuk huruf ‘U’ yang kedua lubangnya saling berhubunngan.

Tahap pertama yang dilakukan dalam pemijahan adalah pembuatan sarang atau lubang oleh induk jantan. Setelah lubang pemijahan selesai dibuat, biasanya belut akan diam selama beberapa hari. Setelah merasa aman dari gangguan, belut janatan akan mengeluarkan gelembung busa ke atas permukan airtepat di atas lubang. Gelembung-gelembung yang dibuat jantan bertujuan untuk menarik perhatian belut betina sehingga mau mengeluarkan telur dan menempatkannya pada gelembung tersebut.

Jika belut betina sudah menempatkan telurnya pada gelembung, belut jantan akan segera membuahinya dengan spermanya. Setelah itu belut janatan akan memindahkannya ke dalam sarang. Caranya adalah dengan menghisap gelembung berisi telur terbuahi ke dalam mulutnya, lalu melatakkannya di dalam sarang atau lubang pemijahan yang telah dibuatnya. Selanjutnya belut jantan akan keluar dari lubang satunya agar telur yang telah berada di dalam lubang tidak terganggu.

Biasanya satu induk betina bisa mengeluarkan 100-200 butir telur, tergantung usia dan ukuran induk. Berdasarkan pengalaman, dari telur ang dikeluarkan betina hanya sekitar 50-70 persen saja yang menetas. Sementara itu, dari semua telur yang menetas, hanya 50-70 persen saja yang mampu bertahan hidup sampai ukuran 5 cm. Telur akan menetas 8-15 hari setelah pemijahan terjadi. Hal tersebut dipengaruhi oleh suhu, pH,atau ada tidaknya hama di dalam wadah pemijahan.



3.       Pelakuan pascapemijahan bibit belut


anak belut


Biasanya induk betina yang melakukan pemijahan akan memasuki masa transisi atau perubahan dari induk betina ke induk jantan. Pada masa itu tingkah lakunya akan menjadi sangat agresif. Andaik jika tidak berda dalam masa transisi pun induk betina akan merasa sangat lapar setelah melakukan pemijahan sehingga akan segera mencari makan. Pada masa itulah anak-anak belut yang baru menetas berada dalam bahaya. Oleh karena itu, induk betina yang sudah memijah harus segera dipindahkan kembali ke kolam penampungan induk. Caranya adalah dengan menggunakn perangkap (bubu/poso) yang sudah dimasukkan di dalam wadah
.
Anak-anak belut akan dijaga oleh induk jantan dalam kurun waktu sekitar 15 hari. Induk jantan akakn mengelilingi sarangnya dengan melingkarkan badannya tepat diatas lubang. Setelah 15 hari, induk jantan akan mulai meninggalkan sarang dan mecari makan. Jika sudah terjadi demikian, sebaiknya induka jantan juga dipindahkan ke kolam penampungan induk dengan cara yang sama seperti pada induk betina.


E.       Mendederkan bibit belut

anak belut

Setelah telur menetas, induk akan mengasuh anak-anaknya sampai umur sekitar 15 hari. Induk yang sedang menjaga anak-anaknya akan terlihat melingkari lubang penetasannya.msetelah anak-anaknya dirasa cukup besar, induk akan mulai meninggalkan sarang dan mecari makan. Pada saat itulah benih-benih sudah dapat dipindahkan.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memelihara benih belut, yaitu sebagai berikut.
i)                    Induk belut harus dipindahkan, terutama betina karena dikhawatirkan sudah memasuki masa transisi menjadi induk jantan belut dan bersifat agresif.
ii)                   Benih jangan dulu diusik, termasuk pemberian pakan, sampai berumur 15-30 hari. Pasokan pakan masih berasal dari kuning telur dan plankton. Benih yang berumur satu bulan akan memiliki panjang rata-rata 5 cm.
iii)                 Pindahkan benih yang berukuran 5 cm ke kolam pendederan
iv)                 Pemindahan benih jangan sampai mengenai tubuhnya secara langsung, tetapi dengan  mengangkat benih bersama dengan medianya.

1.       Media pendederan bibit belut

Untuk mendederkan bibit belut berumur satu bulan, diperlukan media yang sama seperti pemijhan. Akan tetapi, media dibuat dengan ketebalan sekitar 10-15 cm saja. Hal itu bertujuan untuk memudahkan proses pemindahannya kelak. Upayakan media telah diolah menjadi gembur, lembut, dan kaya nutrisi (mineral dan plankton) sehingga benih tidak kekurangan pakan.

2.       Pendederan bibit belut



Secara umu pendederan belut dilakukan dua tahap. Tahap pertama adalah mendederkan benih belut sampai berukuran 8-10 cm. Sementara itu, pendederan tahap kedua bertujuan untuk mendapatkan benih belut berukuran sektar 15 cm.

Pada pendederan pertama, bibit belut jangan diberikan pakan tambahan dari luar. Hal tersebut dapat mengganggu kenyamanan benih dan mengakibatkan stres. Kepadatan benih pada pendederan pertama dibuat 100 ekor/meter persegi. Pada pendederan kedua, benih sudah dapat diberikan pakan dari luar, seprti cacing sutera, jentik nyamuk, atau kutu air. Kepadatan benih pada pendederan kedua ini antara 40-50 ekor/meter persegi. Tiap-tiap masa pendederan berlangsung dalam kurun waktu sekitar dua bulan umur bibit belut.